JAKARTA, Asatunet.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan Pemerintah Daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan penuh, menyusul dimulainya puncak musim kemarau yang melanda sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang bulan Agustus 2026.
Fenomena iklim global El Niño kuat yang sedang aktif diprediksi membuat kemarau tahun ini berdurasi jauh lebih panjang dan jauh lebih kering dibandingkan kondisi klimatologis normal. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyebut, Puncak musim kemarau tahun 2026 ini diprediksi terjadi sebagian besar pada bulan Agustus hingga September.
"BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus yang melingkupi 48,84% wilayah serta September mencakup 25,41% wilayah daratan," kata Faisal dalam keterangan resminya.
- Agustus 2026: Sumatra bagian tengah, sebagian besar Pulau Jawa, (termasuk Jawa Tengah yang mencapai 83,3% cakupan ZOM), Bali, NTB, sebagian NTT , sebagian besar Kalimantan , sebagian besar Sulawesi , Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.
- September 2026: Bergeser dan meluas ke Kepulauan Bangka Belitung , Sumatera Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar NTT, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, dan Papua Pegunungan.
- Krisis Air Bersih & Sektor Domestik: Sejumlah kabupaten di Pulau Jawa dilaporkan mulai mengalami defisit pasokan air bersih akibat tidak adanya hujan dalam beberapa pekan terakhir.
- Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Peningkatan drastis titik panas ( hotspot ) rawan terjadi, terutama di wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara.
- Ancaman Gagal Panen: Penguapan air tanah yang cepat berpotensi menekan produktivitas sektor pertanian dan mengancam stabilitas harga pangan nasional.
Guna mengurangi dampak buruk bencana meteorologis ini, Kepala BMKG mengimbau seluruh pihak untuk segera mengoptimalkan tampungan air di waduk atau embung, melakukan penghematan penggunaan air bersih, serta menyesuaikan pola tanam bagi para petani. Pemerintah bersama instansi terkait juga terus menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di zona-zona kritis untuk memicu hujan buatan sebelum kekeringan bertambah ekstrem.
Teuku Faisal juga mengingatkan bahaya cuaca ekstrem bagi kesehatan tubuh. Untuk itu, masyarakat diharapkan bisa mengurangi aktivitas di luar rumah, jika tidak diperlukan.
"Cuaca panas ekstrem selama kemarau akibat rendahnya tutupan awan dapat memicu heatstroke bagi warga yang beraktivitas lama di luar ruangan. Selain itu, minimnya hujan memicu penurunan kualitas udara yang berasosiasi langsung dengan lonjakan penyakit ISPA." jelasnya.









