Surabaya, Asatunet.com – Fasilitas pemberdayaan masyarakat berupa Rumah Padat Karya (RPK) di Wilayah Kecamatan Sememi memprihatinkan. Kondisi terkini nampak sangat sepi dan tidak maksimal. Pertanyaannya, apakah management pengelolaannya yang gagal atau peminat swadaya masyarakatnya yang minim ?
Tak ayal, fenomena tersebut manjadi sorotan publik. Dimana, bangunan yang semula sebagai eks lokalisasi disulap menjadi pusat usaha warga dan diresmikan Wali Kota Surabaya bersama camat, lurah, dinas terkait sekitar 4 tahun yang lalu, terkesan keluarnya anggaran rehab menjadi tidak bermanfaat.
Dari sisi maksud dan tujuan, RPK di wilayah Kecamatan Sememi tersebut merupakan program yang bertujuan untuk membantu warga berpenghasilan rendah menjadi tempat usaha produktif dan melatih warga setempat untuk mengelola usahanya secara mandiri.
Contohnya saja fasilitas cuci kendaraan bermotor terlihat kosong momplong tidak beroperasi. Apalagi terdapat 6 stan kuliner berada sisi utara juga tampak kosong. Informasi yang berkembang, RPK dan Sentral Wisata Kuliner (SWK) sudah tidak beroperasional sekitar satu tahun.
"Sudah lama sekali, kurang lebih ada 1 tahunan cucian mobil tidak aktif. Kalau laundry dan jahit masih berjalan. Harusnya kalau dibuat cucian sepeda motor saja mungkin masih ada pengunjungnya," jelas sumber, Kamis (16/7/2026).
Sementara, disisi lain, Lurah Sememi Surabaya, Tiyar Junaedi dikonfirmasi mengatakan bahwa, program Rumah Padat Karya tersebut memang diperuntukkan bagi warga kurang mampu. Namun, tantangan terbesar terletak pada keberlanjutan usaha yang dijalankan para pesertanya.
“Sebentar saja mereka sudah mutung (patah semangat). Berbeda lagi, sama seseorang punya jiwa wirausaha. Jadi, dirasa keadaan berusaha sepi, sudah patah semangat (mutung),” terang Tiyar.
Lebih lanjut Tiyar mengatakan, sebagian peserta itu sebelumnya mengikuti program RPK Sememi, kini beralih pekerjaan. Maka orangnya tidak lagi bekerja, tetapi sudah beralih ke profesi yang lain. "Sempat saat buka, RPK Sememi lebih banyak tutup, dari pada bukanya.”
Tiyar pun mengakui, jika program RPK Sememi merupakan pemberdayaan masyarakat. Namun, rasa kedisiplinan dan komitmen peserta masih menjadi kendala. "Kalau saya melihat kan, RPK Sememi pemberdayaan masyarakat. Jadi, kurang kuat, dan rata-rata tidak tepat waktu kalau datang," terangnya.
Kembali dikatakannya jika pihaknya tetap berupaya membangkitkan kembali aktivitas di RPK Sememi dengan memberikan motivasi kepada masyarakat agar mau terlibat dalam program itu.
"Itu RPK Sememi fasilitas cuci kendaraan bermotor dikelola BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia). Kita telah dapat lagi tenaga orangnya untuk cuci kendaraan bermotor," katanya.









