Lamongan, Asatunet.com – Hasil pertanian tembakau ingin berkwalitas, tidak cukup hanya diberikan bantuan sarana dan prasarana (Sarpras). Edukasi tentang budidaya dan efisiensi pengeluaran juga sangat diperlukan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DINKPP) Kabupaten Lamongan, Dr. Mugito, M.M didampingi Kepala Bidang Perkebunan, Nazilatul Fikriyati, Sp mengatakan pihaknya saat ini fokus pada pengembangan SDM petani tembakau.
Dari penerimaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) DINKPP dengan total nilai Rp 11,5 Miliar. Sebesar Rp 7 Miliar diperuntukan bidang perkebunan, lebih diprioritaskan untuk pelatihan bagi petani tembakau.
Bukan tanpa alasan, petani tembakau kali ini diharapkan dapat secara mandiri mengembangkan budidaya tembakau berkwalitas. Mulai pembuatan benih mandiri, pra panen hingga paska panen.
Mugito menjelaskan bahwa dari pembagian anggaran cukai itu, petani tembakau yang tercatat juga mendapatkan bantuan alat, hand traktor, pompa air, kendaraan roda 3, handsparyer dan jalan produksi untuk 19 lokasi.
“Dalam pelaksanaannya, kami bekerjasama dengan pendamping dari badan perakitan dan modernisasi (BBRMP), sebagai nara sumbernya. Untuk pelatihan intensifikasi terbagi menjadi 4 kelompok,” jelas Mugito saat ditemui diruang kerjanya, kemarin.
Tentang materi pelatihan, tambah Mugito, nara sumber lebih fokus kepada bagaimana petani tembakau merubah mindset kebiasaan menjadi petani yang modern. Salah satunya tentang pembibitan tembakau secara mandiri.
Dengan diberikannya materi pelatihan tentang persemaian bibit tembakau secara mandiri, diharapkan petani bisa meminimalisir pengeluaran serta petani dapat melakukan penanaman tepat waktu.
“Saat ini progress pelaksanaan sudah 80 persen. Nara sumber mengimplementasikan mulai dari perkembangbiakan biji tembakau atau disemaikan selama 45 hari, pra panen hingga paska panen,” jelasnya.
Tujuan ekonomisnya, jika di tahun-tahun sebelumnya petani mengeluarkan biaya untuk membeli bibit, dengan adanya program pelatihan kemandirian ini, petani dapat menciptakan bibit sendiri.
Jadi, kembali diharapkan dengan program yang bersumber dari cukai ini bisa meminimalisir pengeluaran, dan tentunya, kata Mugito, petani tembakau bisa menuai hasilnya secara maksimal.









